CURHATAN CINTA PADA TUHAN
Cipt. Rahma Bintang Pratama
Hai Fajar...
Anugerah Tuhan apa yang telah diberikan kepadamu
Sang Maha Kuasa melimpahkan kuasa atasmu
Hingga mampu membangunkanku dari mimpi yang belum berlalu
Kala itu...
Inikah saatnya...
Hatiku gemetar mendengar dengung kesucian dari seorang lelaki
Haruskah aku berangkat?
Dinginnya air yang menyucikan diriku
Hingga pun kulit ini berkeriput
Tuhan, sekali pun aku tak akan mengabaikanmu
Karena kutahu kau pun tak mungkin mengabaikanku
Kini hatiku bersamamu
Kurenungkan dosa pada diri hingga aku malu meminta darimu
Pantaskah aku? Seorang raga yang telah mengotori jiwanya
Tapi kusadari keagungan dirimu Wahai Sang Maha Pengampun
Tanganku bersimpuh di depan dada
Hatiku menghadapmu seraya berkata
Alangkah indahnya jikalau engkau memberi hamba seorang kekasih
Harapku pada Ilahi
Hai Pagi...
Kau yang telah membawakan mentari
Kau juga yang membawakan harapan akan mimpi
Akankah itu terwujud hari ini?
Langkah awal kupersembahkan pada Ilahi
Wujud syukur atas karunia kehidupannya
Lihatlah wahai Tuhan...
Aku akan mewujudkannya hari ini
Mencari dirinya tiadalah terasa mudah
Apakah yang memberikanku dorongan untuk terus melangkah?
Itulah dia...
Cinta...
Hai Siang...
Dosa apakah yang kuperbuat kepadamu?
Terik ini tetap tak akan menghentikan tekadku
Ketika saatnya tiba, tunggulah Wahai Siang... Akan kutunjukkan dirinya
Kembali kudengarkan...
Seorang lelaki memuji Tuhan...
Menyeru kepada kebaikan...
Dan membawa pada kemenangan...
Dadaku sesak penuh penyesalan
Hampir saja kuingkar janji kepada Tuhan
Tuhan... Aku mendengarmu...
Akan kudatangi rumahmu...
Hai Petang...
Terima kasih atas sejuk yang kau berikan padaku
Dirimulah yang meredupkan Sang Siang
Memberikanku harapan untuk kembali mencari Sang Angan-angan
Lelahnya raga bisa kuhiraukan
Tetapi lelahnya jiwa tak bisa kuabaikan
Kini aku berpikir...
Apakah memang ini belum saatnya?
Tuhan...
Aku membutuhkanmu...
Ada rindu hati yang tak bisa disembuhkan kecuali bertemu denganmu
Tuhan... Dengarkanlah curahan hatiku...
Hai Senja...
Engkau membuatku mengerti...
Dengan kedatanganmu...
Mungkin memang belum saatnya
Tuhan...
Aku ingin bertemu...
Menanyakan hal yang ditanyakan oleh hatiku
Apakah ini belum saatnya?
Aku lelah...
Tetapi harapanku masih ada
Mimpi yang belum terwujud...
Aku masih mempercayainya
Hai Malam...
Aku tak menyangka engkau datang terlalu cepat
Menidurkan mimpi yang belum terwujud
Harapan akan seorang kekasih yang belum tergapai
Tuhan...
Aku percaya engkau...
Aku percaya doaku...
Ini memang belum saatnya
Sang Malam telah menyembuhkan penat ragaku
Sang Ilahi telah menyembuhkan penat jiwaku
Kekasih yang belum kudapatkan...
Akankah mimpiku tercapai esok hari?
Komentar
Posting Komentar